Sejarah mencatat bahwa mahasiswa tidak pernah lahir sebagai kelompok yang apatis terhadap keadaan. Mahasiswa hadir sebagai agent of change, social control, dan kekuatan moral yang bertugas menyuarakan kepentingan rakyat ketika ruang-ruang kekuasaan mulai menjauh dari kebutuhan masyarakat. Gerakan mahasiswa yang besar dan berpengaruh selalu lahir dari kesadaran kolektif untuk merespons persoalan zaman, bukan sekadar untuk memenuhi agenda organisasi semata.
Dalam konteks tersebut, menjadi wajar apabila publik kampus mempertanyakan sikap Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) hari ini. Di tengah banyaknya persoalan yang membutuhkan perhatian, belum terlihat adanya sikap yang tegas dan konsisten dalam merespons berbagai dinamika yang terjadi. Padahal BEM merupakan representasi mahasiswa yang seharusnya mampu menjadi corong aspirasi sekaligus penggerak kesadaran kritis di lingkungan kampus dan masyarakat.
Kritik ini bukan ditujukan untuk menjatuhkan lembaga mahasiswa, melainkan sebagai bentuk kepedulian terhadap marwah gerakan itu sendiri. Sebab BEM bukanlah organisasi yang dibentuk hanya untuk mengadakan seminar, perlombaan, atau kegiatan seremonial lainnya. Lebih dari itu, BEM memiliki tanggung jawab untuk melakukan advokasi, pengawasan, serta menyampaikan sikap terhadap berbagai persoalan yang berdampak pada kehidupan rakyat dan mahasiswa.
Ketika organisasi mahasiswa lebih banyak terlihat sebagai penyelenggara kegiatan daripada sebagai representasi perjuangan, maka publik berhak mempertanyakan arah gerakan yang sedang dibangun. Jangan sampai lembaga yang lahir sebagai perpanjangan tangan mahasiswa dan rakyat justru kehilangan keberanian untuk menjalankan fungsi kontrol sosialnya. Sebab diam dalam situasi yang penuh persoalan juga merupakan sikap yang akan dinilai oleh sejarah.
BEM harus memahami bahwa keberanian tidak selalu diwujudkan melalui demonstrasi. Sikap dapat ditunjukkan melalui kajian kritis, pernyataan resmi, advokasi kebijakan, diskusi publik, maupun berbagai bentuk gerakan intelektual lainnya. Namun yang terpenting adalah adanya keberpihakan yang jelas terhadap kepentingan masyarakat. Organisasi mahasiswa yang sehat adalah organisasi yang mampu membaca keadaan dan berani menyampaikan kebenaran berdasarkan nilai-nilai keadilan.
Jika BEM hari ini hanya berfungsi sebagai lembaga event, maka mahasiswa perlahan akan kehilangan alasan untuk menaruh harapan kepada para pemimpinnya. Mahasiswa tidak membutuhkan pemimpin yang hanya aktif dalam dokumentasi kegiatan, tetapi pemimpin yang hadir di tengah persoalan, mampu bersikap ketika keadaan menuntut keberanian, dan mampu menjadi suara bagi mereka yang tidak memiliki ruang untuk didengar.
Editor: Samuel
