![]() |
| Diskusi peringati hari International Woman's Day yang diselenggarakan oleh Sang Puan Indonesia, Kamis (12/3) di Wall Climbing UBB. Foto oleh: Melani/Alternatif |
LPM Alternatif, Balunijuk – Dalam rangka memperingati International Women’s Day (IWD), Sangpuan Indonesia bersama sejumlah organisasi mahasiswa di Bangka Belitung menggelar diskusi dan mimbar bebas secara kolaboratif di Wall Climbing UBB, Kamis (12/3). Kegiatan ini mengusung tema “Hentikan Perang Imperialis: Bangun Politik Feminis untuk Merebut Otoritas Tubuh dan Ruang Hidup Perempuan dari Kekerasan Struktural.”
Kegiatan ini melibatkan berbagai organisasi di Bangka Belitung, di antaranya Sangpuan Indonesia, Lingkar Diskusi Gender (LDG), AJI Pangkalpinang, HIMAPOL, GMNI, SEMPRO, Walhi Babel, KEMENPER BEM KM UBB, BEM KM FISIP, HIMASERDA, dan HMI. Diskusi ini menjadi ruang refleksi sekaligus solidaritas untuk membahas berbagai persoalan yang dihadapi perempuan.
Penanggung jawab acara dari Sangpuan Indonesia, Nabila Azahra, menjelaskan bahwa kegiatan ini dilatarbelakangi oleh masih tingginya kasus kekerasan terhadap perempuan di berbagai aspek kehidupan yang kerap berujung pada eksploitasi dan peremehan terhadap perempuan. “Sering kali perempuan memiliki relasi yang sangat dekat dengan lingkungan, mulai dari keluarga hingga sumber kehidupan sehari-hari. Namun, ketika ruang bernapas itu rusak atau dirampas, perempuan menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya,” ujarnya.
Diskusi ini menghadirkan sejumlah pemateri dari berbagai organisasi yang membahas isu perempuan dari beragam perspektif, seperti femisida, kerentanan perempuan dalam kerja jurnalistik di Bangka Belitung, politik feminis, RUU Pekerja Rumah Tangga (RUU PRT), hingga situasi perempuan di tingkat nasional dan internasional.
Kegiatan ini juga menyoroti pentingnya peran perguruan tinggi dalam menciptakan ruang aman bagi mahasiswa, khususnya perempuan. Kampus dinilai perlu lebih serius mengimplementasikan Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS) melalui kebijakan turunan, seperti pembentukan Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (Satgas PPKS).
Salah satu peserta diskusi, Kevin Aryatama dari Lingkar Diskusi Gender (LDG), menilai kekerasan berbasis gender dan seksual masih sering dianggap sebagai persoalan biasa oleh masyarakat. Ia menekankan pentingnya peran mahasiswa melalui organisasi kampus untuk merespons persoalan tersebut sekaligus menciptakan ruang yang lebih aman bagi perempuan. Diskusi ini diharapkan dapat mendorong meningkatnya kesadaran publik terhadap isu diskriminasi dan kekerasan serta memperkuat upaya untuk menciptakan ruang yang lebih setara bagi perempuan di Pangkalpinang.
Reporter: Hazia Rizki Amanda
Penulis: Hazia Rizki Amanda
Editor: Samuel
