Di tengah perubahan ini, kurikulum pendidikan kedokteran menjadi titik krusial. Dokter masa depan tidak lagi hanya berhadapan dengan penyakit akut, tetapi dengan pasien lansia yang memiliki kompleksitas tinggi, seperti multimorbiditas, polifarmasi, penurunan fungsi, hingga sindrom geriatri seperti frailty, delirium, dan risiko jatuh. Kondisi ini menuntut pendekatan yang tidak hanya berbasis penyakit (disease-centered), tetapi juga berbasis fungsi dan kualitas hidup (function-centered care).
Pertanyaannya, sejauh mana kurikulum kedokteran saat ini telah beradaptasi? Jika menilik kurikulum Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Bangka Belitung (UBB), terlihat bahwa upaya ke arah tersebut sebenarnya telah dimulai. Materi seperti Comprehensive Geriatric Assessment (CGA), sindrom geriatri, farmakoterapi lansia, nutrisi, hingga aspek psikogeriatri telah diperkenalkan, disertai capaian pembelajaran yang menekankan pendekatan bio-psiko-sosial dan asesmen komprehensif.
Secara konseptual, hal ini merupakan langkah maju. Kehadiran materi tersebut menunjukkan bahwa kurikulum UBB tidak sepenuhnya abai terhadap tantangan populasi menua. Namun, kesiapan kurikulum tidak hanya ditentukan oleh keberadaan materi, melainkan oleh bagaimana materi tersebut diintegrasikan dalam proses pembelajaran. Dalam kurikulum UBB, materi geriatri masih ditempatkan sebagai bagian dari blok tertentu, bukan sebagai inti pembahasan. Selain itu, pembahasannya masih cenderung superfisial dan belum mendalam, sehingga berisiko tidak memberikan pemahaman komprehensif mengenai kompleksitas pasien lansia.
Kondisi ini membuat mahasiswa berpotensi memahami geriatri secara parsial. Lansia dapat dipandang hanya sebagai bagian dari penyakit per organ, bukan sebagai individu dengan interaksi multidimensi antara kondisi medis, fungsi, dan lingkungan sosial. Akibatnya, dokter muda berisiko belum siap menghadapi realitas pelayanan geriatri. Mereka mungkin mampu menegakkan diagnosis, tetapi belum tentu mampu merancang perawatan yang berkelanjutan dan sesuai dengan kondisi fungsional pasien, yang pada akhirnya dapat meningkatkan beban pasien, keluarga, dan sistem kesehatan.
Meskipun demikian, kurikulum UBB telah berada pada arah yang tepat. Tantangan ke depan adalah mengintegrasikan pembelajaran geriatri secara lebih utuh dan menjadikannya sebagai kompetensi longitudinal. Mahasiswa perlu dilatih memahami pasien lansia secara komprehensif, termasuk melalui penerapan CGA dan pembelajaran berbasis komunitas.
Pada akhirnya, kesiapan kurikulum kedokteran dalam menghadapi populasi menua tidak dapat dinilai secara sederhana. Kurikulum UBB telah menunjukkan upaya adaptasi, tetapi masih memerlukan penguatan. Jika transformasi dilakukan dengan tepat, dokter masa depan tidak hanya akan mampu mengobati, tetapi juga merawat lansia dengan pendekatan yang bermartabat dan manusiawi.
Penulis: Almira Maurilla Mirsa
Editor: Samuel
