Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Sarkopenia: Mengapa Senam Sehat Bukan Hanya untuk Lansia

Jumat, 10 April 2026 | April 10, 2026 WIB Last Updated 2026-04-10T17:00:50Z


Selama ini, senam sehat identik dengan kumpul-kumpul lansia di hari Minggu pagi. Kegiatan ini memang mulia untuk menjaga kebugaran di usia senja. Namun, dari kacamata medis, pendekatan ini sering kali terlambat karena bersifat kuratif (mengobati), bukan preventif (mencegah). Masalah utama lansia, yaitu sarkopenia, sebenarnya harus dicegah sejak kita masih muda.


Sarkopenia adalah kondisi merosotnya massa dan kekuatan otot seiring penuaan. Di Indonesia, prevalensinya mencapai 41-45% pada lansia. Ini bukan masalah sepele; otot yang lemah meningkatkan risiko jatuh, patah tulang, hingga kematian. Akar masalahnya sederhana: kurangnya aktivitas fisik sepanjang hidup.


Dalam dunia fisiologi, berlaku prinsip “use it or lose it”: gunakan ototmu atau kau akan kehilangan. Otot yang jarang digunakan akan mengalami atrofi atau penyusutan. Secara biologis, aktivitas fisik seperti latihan beban atau senam rutin akan mengaktifkan jalur protein dalam tubuh (jalur mTOR) yang berperan dalam membangun massa otot. Sebaliknya, gaya hidup "mager" sejak muda akan mempercepat kerapuhan kita di masa tua.


Oleh karena itu, paradigma senam sehat di masyarakat harus diubah. Intervensi kesehatan tidak boleh hanya menyasar mereka yang sudah berambut putih. Melibatkan anak muda dalam aktivitas fisik rutin adalah bentuk pencegahan primer-mencegah masalah sebelum benihnya muncul.


Program kesehatan yang hanya fokus pada lansia ibarat menambal bendungan yang sudah bocor. Padahal, pencegahan sarkopenia yang paling efektif adalah dengan membangun "tabungan otot" sejak usia produktif. Kualitas fisik kita di usia 70 tahun nanti adalah hasil dari keringat yang kita keluarkan hari ini. Jadi, jangan tunggu tua untuk mulai bergerak aktif.

Penulis: M. Arvin Habibi

Editor: Samuel

×
Berita Terbaru Update