Dari pandangan sebelumnya, hal ini dapat dibuktikan dengan tidak adanya pandangan atau analisis terhadap isu pembunuhan yang dilakukan polisi baru-baru ini (Pembunuhan siswa MTs di Tual). Kajian yang berkembang di ormawa hanya berhenti pada kritik normatif mengenai pelanggaran HAM atau tugas kepolisian. Padahal kasus tersebut juga dapat dibaca dari perspektif lain yang lebih luas, seperti buruknya komunikasi politik institusi kepolisian yang memengaruhi kepercayaan publik, serta turunnya kepercayaan publik terhadap otoritas penegak ketertiban dapat memengaruhi stabilitas ekonomi, dan juga isu lain yang berkaitan dengan situasi kepolisian yang relevan (MBG, KUHAP, dll).
Dari pembahasan di atas, sebenarnya terlihat pola yang seharusnya digunakan dalam pengembangan kualitas kajian yang ada. Pertama, munculnya topik bahasan yang akan digunakan melalui media sosial memberikan keuntungan bagi Ormawa untuk dapat memilih isu apa yang relevan untuk mereka kaji sesuai dengan bidang keahlian atau studinya. Kedua, independensi Ormawa di jurusan atau prodi dan fakultas dengan hadirnya bagian kajian pada setiap Ormawa seharusnya memberikan perspektif unik terhadap isu yang beredar. Terakhir, adanya sistem hierarki di dalam struktur pemerintahan Ormawa dari tingkat universitas hingga jurusan atau prodi dapat menjadi sarana koordinasi yang lebih matang di mana Ormawa tertinggi secara hierarki dapat memberikan instruksi untuk melakukan analisis kepada Ormawa di bawahnya dengan perspektif yang sesuai dengan keahlian atau kapasitas akademik setiap Ormawa.
Berkaitan dengan sistem koordinasi yang membuat kajian-kajian di lingkungan Ormawa KM UBB dipandang lemah secara substansi, Ormawa juga cenderung lebih sering mengangkat isu yang tengah populer. Hal ini sebenarnya bukan sebuah kesalahan. Yang menjadi masalah adalah bagaimana isu populer tersebut sering kali ditanggapi secara tidak relevan. Alih-alih menjadi momentum untuk mengembangkan kajian yang lebih luas, isu populer justru menutup pembahasan terhadap isu lain yang sama pentingnya untuk dianalisis dan diadvokasikan.
Pada akhirnya, tulisan ini ditujukan untuk mendorong Ormawa KM UBB untuk dapat menggunakan independensi akademik mereka untuk dapat mengkaji isu dan kasus yang ada secara lebih proaktif dengan menggunakan pisau analisis yang relevan dengan bidang studi dan keahlian mereka. Tulisan ini juga ditujukan sebagai diskusi bagi penyelenggara kepengurusan Ormawa untuk dapat menghasilkan buah pikiran yang akademis dari setiap hal yang terjadi baik di dalam lingkungan akademik maupun di luar lingkungan kemahasiswaan. Penulis merasa, sebagai pedoman, Ormawa harus mengingat kenyataan bahwa terlepas dengan sikap dan pandangan politik serta fokus pergerakan kemahasiswaan, Ormawa KM UBB lahir dan hidup di dalam kerangka pendidikan dan akademik.
Penulis: Muhammad M. Ridha
Editor: Samuel
