Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Di Balik Layar Drachin: Saat Lansia Menukar Sepi dengan Drama

Senin, 06 April 2026 | April 06, 2026 WIB Last Updated 2026-04-06T10:52:55Z


Di sebuah ruang tamu yang sunyi, seorang lansia duduk diam menatap layar smartphone. Episode demi episode drama Cina terus berjalan, penuh cerita cinta, konflik keluarga, dan emosi yang naik turun. Sekilas, ini hanya terlihat seperti hiburan biasa. Tapi kalau kita mau berhenti sejenak dan benar-benar memperhatikan, ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar tontonan. Layar itu bukan cuma menemani, tapi pelan-pelan mulai menggantikan sesuatu yang jauh lebih penting, yaitu interaksi dengan manusia. Di titik ini, kita perlu jujur bertanya, apakah ini benar-benar kebahagiaan, atau hanya cara halus untuk menutupi rasa sepi?


Masalah ini sebenarnya tidak sesederhana yang terlihat. Data dari World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa sekitar 14% lansia mengalami gangguan mental, dan depresi menjadi salah satu yang paling sering terjadi. Bahkan, depresi menyumbang sekitar 10,6% dari total disabilitas pada lansia di dunia (WHO, 2023). Di Indonesia sendiri, angkanya juga tidak kecil. Data Riskesdas 2018 mencatat sekitar 6,5% lansia mengalami depresi, terutama mereka yang hidup sendiri atau memiliki keterbatasan sosial. Dalam kondisi seperti ini, menonton drama menjadi pilihan paling mudah, tidak butuh tenaga, tidak perlu orang lain, dan selalu ada kapan saja. Bahkan, ada juga yang berpendapat bahwa menonton bisa membantu menjaga kesehatan mental karena membuat lansia tetap “merasakan sesuatu”, tetap terlibat secara emosional (Tempo, 2018). Dan memang, dalam batas tertentu, hal itu benar layar bisa jadi teman ketika dunia terasa sepi.


Tapi di sinilah dilemanya. Ketika menonton bukan lagi sekadar selingan, melainkan jadi pengganti utama interaksi sosial, efeknya bisa berubah. Yang awalnya menghibur, perlahan justru bisa memperdalam rasa kesepian. Rasa “ditemani” oleh karakter di layar sebenarnya hanya semu, karena tidak ada interaksi timbal balik yang nyata. Tidak ada percakapan, tidak ada hubungan yang benar-benar hidup. Lama-kelamaan, yang tersisa hanya kebiasaan diam bersama layar. Penelitian oleh Rosnadia dan Fitriani (2021) menunjukkan bahwa lansia yang kurang berinteraksi sosial cenderung lebih rentan mengalami depresi. Jadi, sebenarnya bukan dramanya yang salah, tapi ketika layar mulai mengambil alih terlalu banyak ruang dalam kehidupan.


Kalau diulik lebih jauh, drama Cina sendiri punya karakteristik yang membuatnya mudah “menarik” untuk ditonton. Biasanya episodenya panjang, bahkan bisa puluhan sampai ratusan, sehingga tanpa sadar orang bisa menonton terus-menerus. Selain itu, ceritanya sering penuh emosi tentang keluarga, kehilangan, pengorbanan, dan penyesalan hidup, hal-hal yang sering sangat dekat dengan pengalaman lansia. Karena itu, penonton bisa merasa sangat terhubung dengan karakter di dalamnya, seolah-olah punya hubungan sendiri dengan mereka. Ini memang bisa memberi rasa nyaman. Tapi kalau tidak ada tempat untuk berbagi atau menyalurkan perasaan itu di dunia nyata, emosi tersebut justru bisa menumpuk dan membuat seseorang merasa semakin sendiri. Fenomena ini dikenal sebagai parasocial relationship, yaitu keterikatan emosional satu arah antara penonton dan karakter media.


Penelitian oleh Manafe dan Berhimpon (2022) juga menunjukkan bahwa kesepian di usia lanjut memiliki hubungan erat dengan depresi. Ketika lansia terus berada dalam “dunia emosional” dari layar tanpa diimbangi interaksi nyata, perasaan itu tidak benar-benar hilang, hanya tertunda. Dalam beberapa kondisi, apalagi jika ada masalah keluarga atau keterbatasan fisik, lansia bisa semakin menarik diri dari lingkungan sekitarnya. Kalau sudah mulai jarang bicara, kehilangan minat, atau lebih banyak menghabiskan waktu sendiri, ini bukan lagi hal yang bisa dianggap biasa.


Dalam situasi seperti ini, bantuan dari tenaga profesional seperti psikiater (Sp.KJ) atau psikolog bukanlah sesuatu yang berlebihan, melainkan bentuk kepedulian. Mereka dapat membantu lansia mengungkapkan perasaan yang mungkin selama ini sulit disampaikan, sekaligus membantu keluarga memahami bagaimana cara mendampingi dengan lebih baik. Ini penting, terutama ketika gejala depresi mulai muncul dan memengaruhi kualitas hidup. Di sisi lain, kita sebagai generasi yang lebih muda juga punya peran. Ini bukan sekadar soal kebiasaan menonton, tapi soal bagaimana kita hadir dalam kehidupan mereka. Kadang solusinya sederhana, tapi sering terlupakan, yaitu hadir. Mengajak berbicara, menemani menonton, atau sekadar duduk bersama tanpa distraksi bisa sangat berarti. Bahkan tontonan yang sama bisa terasa berbeda ketika dinikmati bersama, bukan lagi sebagai pelarian, tetapi sebagai cara untuk membangun kembali koneksi.


Pada akhirnya, kita perlu melihat ini dengan lebih jujur. Layar tidak pernah salah, tapi ia tidak bisa menggantikan hubungan manusia. Lansia tidak hanya membutuhkan hiburan, tetapi juga kehadiran, perhatian, dan makna dalam relasi sosial. Jadi, ketika kita melihat seseorang terlalu lama menatap layar, mungkin yang perlu kita lakukan bukan langsung menyuruh berhenti, tetapi mendekat, dan memastikan bahwa mereka tidak sedang merasa sendirian.

Penulis: Muhammad Imam Dwiyansyah
Editor: Samuel

Referensi

Tempo. (2018, Desember 20). Menonton bioskop dan teater bisa mencegah depresi pada lansia.https://www.tempo.co/gaya-hidup/menonton-bioskop-dan-teater-bisa-mencegah-depresi-pada-lansia-786865

World Health Organization. (2023). Mental health of older adults. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/mental-health-of-older-adults

Rosnadia, A., & Fitriani, D. R. (2021). Hubungan antara interaksi sosial dengan tingkat depresi pada lansia: Literature review. Borneo Student Research, 3(1). https://journals.umkt.ac.id/index.php/bsr/article/view/2544

Manafe, L. A., & Berhimpon, I. (2022). Hubungan tingkat depresi lansia dengan interaksi sosial lansia di BPSLUT Senja Cerah Manado. Jurnal Ilmiah Hospitality, 11(1). https://doi.org/10.47492/jih.v11i1.1979

×
Berita Terbaru Update