Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Menjaga Laut, Menjaga Nafkah: Perspektif Bioekonomi Nelayan Di PPP Batu Rusa, Pangkalpinang

Jumat, 03 April 2026 | April 03, 2026 WIB Last Updated 2026-04-04T05:08:39Z

Kunjungan Mahasiswa Perikanan Tangkap UBB ke PPP Muara Sungai Baturusa. Sumber Foto Istimewa

Perikanan tangkap merupakan salah satu penopang utama kehidupan masyarakat pesisir di Kota Pangkalpinang. Di tengah berbagai keterbatasan, nelayan skala kecil tetap bertahan sebagai penyedia sumber pangan sekaligus penggerak ekonomi lokal. Namun, di balik peran penting tersebut, tersimpan tantangan yang tidak sederhana: ketidakpastian hasil tangkapan, perubahan musim, hingga posisi tawar yang masih lemah dalam rantai pemasaran. 

Melalui kegiatan Project Based Learning (PjBL), kami melakukan observasi lapangan dan wawancara langsung dengan nelayan di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Muara Sungai, Baturusa (12/3). Kegiatan ini memberikan gambaran nyata tentang bagaimana nelayan menjalankan usaha penangkapan ikan di tengah berbagai keterbatasan dan tantangan. Dari interaksi tersebut, tergambar realitas keseharian nelayan yang sangat bergantung pada kondisi alam. Sebagian besar masih menggunakan alat tangkap sederhana seperti pancing dan jaring insang, dengan kapal berukuran kecil. Kegiatan melaut tidak hanya menuntut keterampilan, tetapi juga ketahanan menghadapi ketidakpastian. 


Selain itu, sistem pemasaran hasil tangkapan yang masih didominasi oleh tengkulak menunjukkan bahwa nelayan belum sepenuhnya memiliki kendali atas harga jual. Meski beberapa nelayan mulai mengakses pasar lokal secara mandiri, ketergantungan terhadap perantara tetap menjadi tantangan tersendiri. Dalam konteks ini, pendekatan bioekonomi menjadi relevan untuk memahami bagaimana usaha perikanan dapat berjalan secara berkelanjutan. Bioekonomi tidak semata-mata berbicara tentang seberapa banyak ikan yang dapat ditangkap, tetapi juga tentang bagaimana pemanfaatan tersebut tetap menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus memberikan keuntungan ekonomi bagi nelayan.


Konsep Maximum Sustainable Yield (MSY) mengingatkan bahwa ada batas maksimal pemanfaatan sumber daya ikan yang masih dapat dipertahankan tanpa merusak keberlanjutannya. Sementara itu, Maximum Economic Yield (MEY) menekankan pentingnya efisiensi, yakni bagaimana nelayan dapat memperoleh keuntungan optimal tanpa harus meningkatkan tekanan terhadap sumber daya secara berlebihan. Kedua konsep ini menjadi penting, terutama dalam konteks perikanan skala kecil. Tanpa pengelolaan yang tepat, peningkatan jumlah upaya penangkapan berpotensi mendorong eksploitasi berlebih yang justru merugikan nelayan dalam jangka panjang. Sebaliknya, jika pemanfaatan dilakukan secara bijak dan terukur, sumber daya ikan dapat terus memberikan manfaat yang berkelanjutan. 


Temuan di lapangan menunjukkan bahwa sebenarnya terdapat peluang untuk mengarah pada pengelolaan yang lebih baik. Skala usaha yang relatif kecil dan penggunaan alat tangkap sederhana dapat menjadi modal awal untuk menjaga keseimbangan antara pemanfaatan dan kelestarian. Namun, peluang ini perlu didukung oleh kebijakan dan penguatan kapasitas nelayan. Penguatan kelembagaan seperti koperasi nelayan menjadi langkah strategis untuk meningkatkan posisi tawar dalam pemasaran. Dengan adanya kelembagaan yang kuat, nelayan dapat memiliki akses yang lebih baik terhadap informasi harga, pasar, hingga permodalan. Di sisi lain, upaya meningkatkan efisiensi usaha penangkapan juga penting agar nelayan dapat mendekati kondisi MEY, yaitu memperoleh keuntungan maksimal dengan biaya yang lebih terkendali. 


Selain itu, pengendalian upaya penangkapan perlu menjadi perhatian bersama agar tidak melampaui batas MSY. Hal ini dapat dilakukan melalui pengaturan jumlah alat tangkap, waktu penangkapan, maupun wilayah operasi yang lebih terencana. Edukasi kepada nelayan mengenai pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem juga menjadi kunci dalam mendorong praktik penangkapan yang bertanggung jawab. 


Diversifikasi usaha menjadi alternatif yang tidak kalah penting. Ketergantungan penuh pada hasil tangkapan membuat nelayan rentan terhadap fluktuasi alam. Oleh karena itu, pengembangan usaha lain seperti pengolahan hasil perikanan atau kegiatan ekonomi berbasis pesisir dapat menjadi solusi untuk menjaga stabilitas pendapatan. 


Pada akhirnya, menjaga keberlanjutan perikanan bukan hanya soal melindungi sumber daya ikan, tetapi juga memastikan keberlangsungan hidup nelayan itu sendiri. Pendekatan bioekonomi melalui konsep MSY dan MEY memberikan arah bahwa keseimbangan antara keuntungan ekonomi dan kelestarian sumber daya bukanlah hal yang mustahil untuk dicapai. 


Laut yang dikelola dengan bijak akan terus memberi. Sebaliknya, laut yang dieksploitasi tanpa kendali hanya akan meninggalkan ketidakpastian. Di Pangkalpinang, harapan itu masih ada selama pengelolaan dilakukan dengan kesadaran, pengetahuan, dan kerja sama semua pihak.


Penulis: Aprilio, Dia Rahmadhani, Ferro Desvianndo, Genta S, Jimmy Dewangga &  Sri Fadila
Editor: Samuel

×
Berita Terbaru Update