Sampai saat ini, HIV/AIDS masih sering dikaitkan dengan moralitas dan dianggap sebagai konsekuensi dari “perilaku menyimpang”. Cara pandang ini tidak hanya tidak adil bagi mereka yang hidup dengan HIV/AIDS, tetapi juga mengaburkan fakta ilmiah. HIV/AIDS adalah penyakit infeksi kronis yang dapat terjadi pada siapa saja. Virus ini tidak memilih inangnya berdasarkan baik atau buruknya seseorang, tidak melihat status sosial, dan tidak peduli pada latar belakang kehidupan seseorang. Siapa pun bisa terinfeksi. Sayangnya, kurangnya pemahaman membuat masyarakat membangun ketakutan yang tidak berdasar. Tidak sedikit orang yang masih menghindari interaksi sosial sederhana seperti berbagi tempat duduk, mengobrol, atau berjabat tangan karena takut tertular. Padahal, HIV tidak menular melalui kontak sehari-hari seperti itu. Penularannya terjadi melalui kontak dengan cairan tubuh tertentu, sehingga sebenarnya dapat dicegah tanpa harus menjauhi penderitanya.
Di sisi lain, perkembangan dunia medis saat ini menunjukkan fakta yang berbeda. Dengan terapi antiretroviral (ARV), orang dengan HIV dapat hidup sehat, beraktivitas normal, dan memiliki harapan hidup yang panjang. ARV bekerja dengan menekan jumlah virus dalam tubuh sehingga sistem imun tetap terjaga. Jika pengobatan dijalani secara rutin dan konsisten, jumlah virus dapat ditekan hingga tidak terdeteksi. Dalam kondisi ini, dikenal konsep Undetectable = Untransmittable (U=U), yaitu ketika viral load tidak terdeteksi, risiko penularan kepada orang lain menjadi sangat kecil, bahkan hampir tidak ada. Fakta ini menunjukkan bahwa HIV bukan lagi penyakit yang harus ditakuti secara berlebihan, melainkan kondisi yang dapat dikendalikan dengan pengobatan yang tepat.
Namun, sayangnya, stigma masih menjadi penghalang besar dalam penanganan HIV/AIDS. Berdasarkan Kementerian Kesehatan RI, stigma dan diskriminasi membuat banyak orang enggan melakukan tes HIV karena takut dicap negatif oleh masyarakat. Bahkan, tidak sedikit yang memilih menyembunyikan statusnya atau menunda pengobatan karena khawatir akan penolakan sosial. Akibatnya, diagnosis menjadi terlambat, pengobatan tidak optimal, dan risiko penularan justru meningkat. Stigma juga dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari penolakan di lingkungan sosial, perlakuan tidak adil di tempat kerja, hingga diskriminasi dalam layanan kesehatan. Hal ini jelas bertentangan dengan upaya pengendalian HIV/AIDS.
Oleh karena itu, yang perlu kita ubah bukan hanya soal obat dan layanan kesehatan, tetapi juga keberanian kita menghapus stigma. Penderita HIV bukanlah ancaman, melainkan manusia yang membutuhkan dukungan dan pemahaman. Mengucilkan mereka tidak akan menyelesaikan masalah, justru memperburuk keadaan. Sudah saatnya kita mengembalikan ruang kemanusiaan bagi penderita HIV/AIDS. Dengan meningkatkan pengetahuan, menghilangkan prasangka, dan menumbuhkan empati, kita tidak hanya membantu mereka menjalani hidup yang lebih baik, tetapi juga berperan dalam memutus rantai penularan HIV di masyarakat. Menjadi penderita HIV/AIDS bukanlah sebuah kejahatan. Sebab yang menjadi masalah adalah stigma yang terus dipelihara. Jika kita ingin benar-benar melawan HIV, maka kita harus mulai dari hal yang paling sederhana: mengubah cara pandang dari menghakimi menjadi memahami, dari menjauh menjadi merangkul.
Penulis: Pretty Nola
Editor: Dinda Putri Islamy & Samuel
