Mulai dari berita konvensional, televisi, sampai ke media sosial seperti Instagram, TikTok, dan sejenisnya memiliki peran penting dalam pembentukan citra pemimpin. Sayangnya, cepatnya transformasi dan informasi yang diterima publik tidak diiringi oleh kualitas medianya, sehingga informasi dan berita yang dimuat tidak selalu diverifikasi oleh fakta dan hanya dijadikan sebagai alat konstruksi politik belaka. Fenomena ini juga menimbulkan pertanyaan yang menarik: Apakah masyarakat benar-benar memilih pemimpin berdasarkan kemampuan, atau sekadar berdasarkan apa yang tampak meyakinkan?
Apa yang terjadi pada hari ini sebenarnya sudah pernah terjadi ratusan tahun lalu. Seorang politisi yang bernama Niccolò Machiavelli pernah menulis bahwa seorang pemimpin tidak perlu menepati janji dan berlaku baik setiap saat, yang perlu ia lakukan hanyalah berpura-pura menepati janjinya dan menggunakan kebaikan hanya jika diperlukan. Dalam arti lain, Niccolò Machiavelli menyimpulkan bahwa manusia lebih mudah percaya pada apa yang tampak dibandingkan dengan memahami realitas kekuasaan yang kompleks.
Politik hari ini bukan lagi soal adu gagasan, melainkan panggung teater di mana pemimpin adalah aktor utamanya dan publik hanyalah penonton yang mudah terkesima. Kita sering kali terlalu menikmati 'akting' di layar ponsel sampai lupa mempertanyakan mekanisme busuk di balik layarnya. Fenomena ini diperparah dengan kehadiran short video yang memframing kepemimpinan sebagai komoditas visual semata. Hasilnya? Kita tidak lagi memilih pelayan publik, melainkan mengidolakan konten, tanpa peduli apakah yang kita tonton itu realitas atau sekadar hasil polesan editor.
Niccolò Machiavelli dalam The Prince kembali menegaskan bahwa kekuasaan tidak bergantung pada kedermawanan seorang pemimpin dalam memutuskan kebijakan, melainkan juga pada perspektif publik. Media, simbol politik, gaya komunikasi, hingga narasi kepemimpinan yang dibentuk media menciptakan kesan bahwa pemimpin adalah pahlawan, tegas, kompeten, dan selalu bersama rakyat. Publik yang hanya merespons sosok pemimpin yang muncul di permukaan dibandingkan dengan realitas politik di baliknya melahirkan pemimpin yang tampak hebat di media, namun hancur dalam hal substansial. Fenomena yang berulang dari zaman The Prince (renaissance) sampai zaman kontemporer menunjukkan bahwa relasi antara kekuasaan dan citra bukan fenomena baru, melainkan pola yang secara konsisten berulang dalam dinamika politik dari masa ke masa.
Pada akhirnya, kecenderungan publik yang mengidolakan pemimpinnya tidak sepenuhnya berlandaskan rasional. Persepsi mayoritas, simbol politik, gaya komunikasi, dan narasi media lebih menentukan daripada kebijakan publik yang mereka buat. The Prince milik Machiavelli tidak menitikberatkan publik sebagai kelompok yang bertanggung jawab atas fenomena ini, melainkan citra pemimpin yang dijadikan sebagai alat utama untuk bertahan sekaligus melegitimasi kekuasaan di ranah politik. Tantangan utama publik saat ini bukanlah menghilangkan figur pemimpin yang hanya bertumpu pada citra yang kuat, melainkan membangun kesadaran kritis supaya mempertanyakan segala hal yang berkaitan dengan pemimpin di media mana pun, bukan hanya sekadar patuh tanpa pertanyaan.
Penulis: Samuel
