Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Dies Natalis atau Panggung Kepentingan? Ketika Independensi BEM KM UBB Mulai Dipertanyakan

Sabtu, 23 Mei 2026 | Mei 23, 2026 WIB Last Updated 2026-05-24T05:31:12Z


Dies Natalis Universitas Bangka Belitung seharusnya menjadi momentum refleksi bagi kampus peradaban. Bukan sekadar perayaan seremonial tahunan, tetapi ruang untuk melihat kembali arah gerakan kampus dan posisi organisasi mahasiswa di tengah dinamika yang terus berkembang. Namun, pelaksanaan Dies Natalis tahun ini justru menghadirkan banyak pertanyaan di kalangan mahasiswa. Bukan semata-mata karena acaranya, melainkan karena suasana dan arah yang terasa berbeda dari biasanya oleh sebagian mahasiswa.


BEM KM UBB tetap menjalankan rangkaian kegiatan Dies Natalis dengan cukup besar dan terorganisir. Akan tetapi, sebagian mahasiswa mulai merasa ada jarak yang semakin terlihat antara BEM KM UBB dan mahasiswa itu sendiri. Nuansa kegiatan yang muncul dinilai lebih formal dan lebih kuat pada aspek seremonial, tetapi bagi sebagian pihak justru terasa kehilangan kedekatan dengan semangat kritis yang selama ini menjadi identitas gerakan mahasiswa UBB. Dies Natalis yang seharusnya menjadi ruang kebersamaan pun mulai dipandang seperti panggung yang terlalu sibuk membangun citra.


Perhatian mahasiswa kemudian tertuju pada hadirnya nama Thorcon sebagai sponsor kegiatan. Kehadiran sponsor tentu bukan sesuatu yang salah secara otomatis. Kampus dan organisasi mahasiswa memang tidak bisa sepenuhnya lepas dari kerja sama eksternal. Tetapi persoalannya menjadi berbeda ketika kedekatan antara sponsor dan organisasi mahasiswa mulai dipersepsikan terlalu kuat hingga memunculkan pertanyaan tentang independensi BEM itu sendiri.


Di titik inilah kegelisahan mahasiswa mulai muncul. Banyak yang bertanya, sebenarnya sejauh mana hubungan antara BEM KM UBB dan pihak sponsor dibangun? Apakah murni sebatas dukungan kegiatan, atau ada relasi lain yang berpotensi memengaruhi persepsi publik terhadap arah gerakan organisasi mahasiswa hari ini? Pertanyaan semacam ini wajar muncul karena BEM bukan sekadar pelaksana acara kampus. BEM adalah representasi mahasiswa yang seharusnya berdiri independen dan menjaga jarak dari kepentingan mana pun.


Yang membuat situasi ini semakin problematis adalah karena semuanya terjadi di momentum Dies Natalis, sebuah momentum yang seharusnya menjadi ruang refleksi kampus peradaban. Namun yang terlihat justru sebaliknya. Alih-alih menghadirkan ruang diskusi dan kedekatan dengan mahasiswa, BEM hari ini tampak lebih sibuk membangun seremoni besar tanpa benar-benar menjawab kegelisahan yang berkembang di bawah.


Mahasiswa tentu tidak anti terhadap sponsor ataupun kerja sama. Tetapi mahasiswa berhak tahu bagaimana relasi itu dibangun dan sejauh mana batasnya dijaga. Sebab ketika organisasi mahasiswa mulai dipandang terlalu dekat dengan kepentingan tertentu, maka publik kampus akan dengan sendirinya mempertanyakan keberpihakan dan independensinya. Dan ketika pertanyaan-pertanyaan itu tidak pernah dijawab secara terbuka, yang tumbuh bukan lagi sekadar kritik, melainkan krisis kepercayaan.


Ironinya, BEM KM UBB yang dahulu dikenal lantang berbicara soal keberpihakan terhadap mahasiswa dan masyarakat kini justru mulai dipertanyakan posisinya oleh sebagian mahasiswa. Kampus peradaban seharusnya melahirkan organisasi mahasiswa yang kritis terhadap segala bentuk relasi kuasa, bukan justru organisasi yang menimbulkan kesan berada terlalu dekat dengan kepentingan tertentu. Sebab independensi organisasi mahasiswa tidak hanya diuji saat berani mengkritik kampus, tetapi juga saat mampu menjaga dirinya agar tidak larut dalam relasi kepentingan.


Pada akhirnya, Dies Natalis bukan hanya soal acara dan perayaan hari jadi kampus. Yang lebih penting adalah bagaimana momentum itu mampu menjaga nilai-nilai gerakan mahasiswa tetap hidup. Dan jika hari ini mahasiswa mulai mempertanyakan independensi BEM KM UBB, maka itu bukan semata karena mahasiswa membenci organisasinya sendiri, melainkan karena masih ada kepedulian agar BEM tetap menjadi rumah bersama mahasiswa, bukan ruang yang memunculkan kesan keberpihakan terhadap kepentingan tertentu.


Editor: Samuel

×
Berita Terbaru Update