Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Ketika Salah Print Menghabiskan Omzet: Pelajaran Mahal dari Usaha Rintisan Mahasiswa

Minggu, 24 Mei 2026 | Mei 24, 2026 WIB Last Updated 2026-05-25T03:10:17Z


Di tengah meningkatnya kebutuhan hidup mahasiswa, banyak anak muda mulai mencoba membangun usaha kecil sebagai cara untuk bertahan sekaligus mencari pengalaman bisnis. “Maba Printing”, sebuah usaha percetakan rintisan mahasiswa yang dibangun dengan konsep murah, ekonomis, dan dekat dengan kebutuhan mahasiswa. Tidak hanya menyediakan layanan print biasa, usaha ini juga membuka layanan hingga di atas jam 10 malam untuk membantu mahasiswa yang sedang mengejar deadline tugas. Maba printing juga sempat lolos pendanaan Program Mahasiswa Wirausaha (PMW) UBB 2024. Dari hasil wawancara penulis dengan Owner (pemilik usaha), beliau menyampaikan bahwa usaha ini tidaklah sederhana, usaha percetakan memiliki tekanan operasional yang cukup tinggi karena menuntut ketelitian, kecepatan, dan kemampuan melayani yang baik.


Owner juga bercerita tentang kesalahan yang menjadi titik penting dalam perjalanan usaha ini. Saat itu, terjadi kesalahan dalam mencetak draft skripsi pelanggan dalam jumlah besar akibat human error. Kesalahan tersebut bermula dari file pelanggan yang memiliki nama sama antara draft revisi sebelumnya dengan file draft final terbaru. Karena kurang teliti saat melakukan pengecekan, file yang tercetak justru merupakan draft revisi lama, bukan draft final yang seharusnya dicetak dan dijilid. Kesalahan yang terlihat sederhana tersebut akhirnya menimbulkan kerugian cukup besar karena seluruh hasil print harus dicetak ulang.


Kerugian yang muncul dari kesalahan tersebut hampir mencapai 40% dari omzet perbulan usaha pada saat itu. Bagi perusahaan besar, angka tersebut mungkin tidak terlalu berarti dan masih bisa ditutupi dengan cadangan modal yang dimiliki. Namun, bagi usaha mahasiswa yang masih berada pada tahap rintisan, kondisi tersebut menjadi pukulan yang cukup berat. Modal usaha yang terbatas membuat setiap lembar kertas, tinta, dan biaya operasional lainnya memiliki nilai yang sangat berarti. Di sisi lain, perputaran uang dalam usaha kecil cenderung ketat sehingga kerugian dalam satu transaksi saja dapat memengaruhi kondisi keuangan usaha secara keseluruhan.


Dampak dari kesalahan tersebut ternyata tidak hanya dirasakan secara finansial, tetapi juga secara mental dan operasional. Rasa panik muncul karena khawatir pelanggan kecewa dan kehilangan kepercayaan terhadap layanan yang diberikan. Dalam usaha jasa, kepercayaan pelanggan merupakan aset yang sangat penting. Ketika terjadi kesalahan, pelaku usaha bukan hanya memikirkan kerugian materi, tetapi juga reputasi usaha yang sedang dibangun. Situasi tersebut menjadi pengalaman yang cukup menegangkan karena muncul kekhawatiran bahwa usaha yang dirintis dengan susah payah bisa kehilangan pelanggan hanya karena satu kesalahan kecil.


Konsep cost control atau pengendalian biaya menjadi sangat relevan dalam kondisi ini karena kesalahan operasional secara langsung meningkatkan biaya produksi yang tidak direncanakan. Selain itu, pengalaman tersebut juga memperlihatkan pentingnya memahami konsep Break Even Point (BEP), yaitu titik ketika pendapatan usaha hanya cukup untuk menutup biaya tanpa menghasilkan keuntungan. Ketika terjadi kesalahan cetak dalam jumlah besar, usaha harus bekerja lebih keras untuk kembali mencapai titik impas. Konsep Cost Volume Profit (CVP) juga menjadi relevan karena menunjukkan bagaimana perubahan biaya akibat human error dapat memengaruhi volume penjualan dan keuntungan usaha secara keseluruhan.


Setelah kejadian tersebut, beberapa perubahan mulai diterapkan dalam sistem operasional usaha. Proses pengecekan file dibuat lebih terstruktur dengan memastikan nama file dan isi dokumen diperiksa kembali sebelum proses print massal dilakukan. Selain itu, preview dokumen selalu dilakukan terlebih dahulu untuk memastikan tidak ada halaman yang salah. Pelanggan juga diminta melakukan konfirmasi ulang terhadap file final sebelum dicetak dalam jumlah besar. Pada jam-jam sibuk, proses kerja dibuat lebih teratur agar tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan. Meskipun terlihat sederhana, perubahan kecil tersebut ternyata cukup membantu mengurangi risiko kesalahan yang sebelumnya sering dianggap sepele.


Realitas usaha mahasiswa memang memiliki tantangan tersendiri. Banyak usaha rintisan dijalankan secara mandiri tanpa tim profesional. Dalam satu waktu, pemilik usaha bisa menjadi operator printer, kasir, admin, sekaligus customer service. Kondisi ini membuat tingkat kelelahan menjadi lebih tinggi dan risiko human error semakin besar. Namun, di sisi lain, kondisi tersebut juga menjadi proses pembelajaran nyata tentang bagaimana menjalankan usaha secara langsung di lapangan. Pengalaman seperti ini sering kali memberikan pemahaman yang lebih mendalam dibandingkan teori yang dipelajari di ruang kelas.


Usaha kecil bukanlah tentang bagaimana selalu mendapatkan keuntungan besar tanpa hambatan. Usaha kecil adalah tentang kemampuan bertahan, belajar dari kesalahan, dan terus memperbaiki sistem agar menjadi lebih baik. Kesalahan print yang dulu terasa sebagai kerugian besar pada akhirnya menjadi titik perubahan dalam menjalankan usaha dengan lebih profesional.

Penulis: Amanda Safitri, Katrina Pebianti, Lonardo Fransisco, Marsha Fadillah & Muhammad Dafit

Editor: Dinda Putri Islamy & Samuel

×
Berita Terbaru Update