Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Generasi Scroll: Dampak Globalisasi yang Membuat Kita Kecanduan Layar

Jumat, 22 Mei 2026 | Mei 22, 2026 WIB Last Updated 2026-05-22T14:35:33Z


Di era sekarang, sulit menemukan momen ketika Generasi Z benar-benar lepas dari layar. Bangun tidur, hal pertama yang dilakukan adalah membuka ponsel. Sebelum tidur, aktivitas terakhir pun sering kali masih sama: scrolling media sosial tanpa henti. Fenomena ini melahirkan sebuah julukan yang semakin relevan, yaitu “Generasi Scroll”. Julukan ini bukan sekadar tren bahasa populer, melainkan gambaran nyata bagaimana globalisasi digital telah membentuk kebiasaan serta pola hidup generasi masa kini.


Globalisasi, khususnya di bidang teknologi dan informasi, telah membuka akses tanpa batas terhadap berbagai platform digital. Media sosial seperti TikTok, Instagram, dan YouTube kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Anthony Giddens dalam teori globalisasi menjelaskan bahwa arus informasi yang melintasi batas negara dapat memengaruhi gaya hidup dan pola pikir masyarakat. Dalam konteks ini, Generasi Z menjadi kelompok yang paling terdampak karena mereka tumbuh bersamaan dengan perkembangan teknologi digital. Akibatnya, interaksi dengan layar tidak lagi sekadar kebutuhan komunikasi, melainkan menjadi habituasi yang sulit dipisahkan dari ruang privat maupun publik.


Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul persoalan yang lebih serius, yaitu kecanduan layar. Banyak individu menggunakan media sosial bukan lagi secara sadar, tetapi secara otomatis dan berulang. Fenomena ini dikenal sebagai doomscrolling, yaitu kebiasaan menggulir layar dalam waktu yang lama tanpa tujuan yang jelas. Dari perspektif psikologi, kondisi ini dapat dijelaskan melalui teori behaviorisme B.F. Skinner. Platform digital dirancang dengan sistem reward seperti notifikasi, jumlah likes, dan komentar yang memberikan kepuasan instan (instant gratification). Hal ini mendorong pengguna untuk terus kembali dan mengulang perilaku yang sama hingga akhirnya membentuk ketergantungan. Imbasnya, aspek kognitif pun terganggu; individu menjadi kesulitan untuk berkonsentrasi dalam jangka panjang karena terbiasa dengan konsumsi konten yang singkat dan cepat.


Selain berdampak secara psikologis, globalisasi digital juga mengubah pola interaksi sosial. Interaksi yang sebelumnya dilakukan secara langsung kini banyak beralih ke ruang virtual. Komunikasi memang menjadi lebih cepat dan praktis, tetapi sering kali kehilangan kedalaman emosional. Dalam teori interaksi sosial, Soerjono Soekanto menjelaskan bahwa perubahan media komunikasi dapat memengaruhi kualitas hubungan sosial antarindividu. Dalam konteks Generasi Scroll, hubungan sosial cenderung menjadi lebih dangkal karena didominasi oleh validasi digital dibandingkan dengan keintiman tatap muka.


Di sisi lain, globalisasi digital turut menggeser aspek sosial-budaya. Generasi Z saat ini semakin mudah terpapar budaya global yang tersebar melalui konten digital. Tren, gaya hidup, hingga cara berpikir banyak dipengaruhi oleh budaya luar negeri. Kondisi ini sejalan dengan teori globalisasi budaya yang menyatakan bahwa arus global yang dominan dapat mengikis nilai-nilai lokal yang ada di masyarakat.


Sebagai bagian dari Generasi Z, fenomena ini sebenarnya tidak sepenuhnya negatif. Globalisasi memberikan berbagai dampak positif, mulai dari kemudahan akses informasi, peluang belajar, hingga ruang ekspresi yang lebih luas. Permasalahan mendasar baru muncul ketika penggunaan teknologi tidak lagi berada dalam kendali pengguna. Kecanduan layar bukan hanya soal durasi penggunaan, tetapi tentang bagaimana teknologi mulai mendikte perilaku manusia.


Oleh karena itu, penting bagi Generasi Z untuk membangun kesadaran digital (digital mindfulness). Mengurangi waktu layar (screen time), mengatur penggunaan media sosial secara bijak, serta meningkatkan interaksi di dunia nyata menjadi langkah konkret yang dapat dilakukan. Globalisasi memang tidak dapat dihentikan, tetapi dampaknya sangat bisa dikelola. "Generasi Scroll" seharusnya tidak menjadi label pasrah yang melekat, melainkan sebuah alarm pengingat agar kita mampu menjadi tuan atas teknologi, bukan sebaliknya.

Penulis: Manisa Delvia
Editor: Dinda Putri Islamy & Samuel

×
Berita Terbaru Update