Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Ketika Merantau Membuatmu Asing di Dua Tempat Sekaligus

Selasa, 09 Juni 2026 | Juni 09, 2026 WIB Last Updated 2026-06-10T07:55:48Z


Momen liburan semester adalah momen yang paling dinanti-nanti oleh mahasiswa dan mahasiswi perantauan. Mulai dari menghirup udara segar sampai makan makanan kampung halaman, merupakan momen paling ditunggu dan dinanti para akademisi yang singgah di kota orang lain demi mengemban pendidikan. Namun, setelah satu atau dua semester merantau, ada beberapa hal yang terasa berbeda. Logat bicara yang mulai bergeser, referensi budaya yang berubah, dan cara berpikir atau memandang kita tidak lagi persis sama seperti sebelum merantau.


Perasaan berbeda tersebut rupanya bukan hanya dirasakan oleh mahasiswa rantau abad ke-20 saja. Jhumpa Lahiri sudah jauh merasakan dan menuliskannya dalam cerpen “Interpreter of Maladies” (1999). Ia mengisahkan keluarga Das, pasangan Amerika keturunan India yang mengunjungi tanah leluhur mereka di Assansol. Lahir dan besar di Amerika, Mr. dan Mrs. Das datang dengan wajah India, tapi pikiran dan kebiasaan mereka sepenuhnya Barat. Secara fisik, mereka kembali ke asal. Tapi identitas tidak semudah itu.


Keluarga Das digambarkan dengan detail yang sangat “Amerika”, topi pelindung transparan, sneakers, blus bermotif stroberi Mrs. Das, kamera yang tergantung di leher Mr. Das. Di tengah jalanan Assansol, keluarga Das memang memiliki tampang seperti orang India kebanyakan, namun, mereka bergaya dan berperilaku seperti turis asing di negerinya sendiri. Dari gestur kecil saat berbicara dengan pemandu Mr. Kapasi; respons Mr.Das yang mengulurkan tangan ala Barat ketika disapa dengan telapak tangan yang dirapatkan Mr.Kapasi, bukan karena Mr.Das ingin menyinggung Mr. Kapasi. Sikap Barat yang dipandang tidak sopan oleh Mr.Kapasi ini dilakukan Mr.Das karena hanya itulah satu-satunya cara yang ia tahu.


Respons perilaku dan gaya bicara yang kontras ini juga dirasakan oleh kebanyakan mahasiswa ketika mereka pulang ke kampung halaman setelah beberapa semester di kota besar. Gaya bicara yang berubah, perspektif yang tidak lagi sama seperti dengan orang-orang kampung halaman, atau bahkan dipandang kontras karena beberapa “elemen” kota yang sudah melekat. Hal-hal seperti itu bukanlah karena mahasiswa tersebut tidak lagi cinta atau berkhianat kepada kampung halamannya. Ini hanya cara manusia beradaptasi, dan kadang adaptasi itu meninggalkan celah di antara dua tempat yang dulu terasa seperti rumah.


Kembali ke Maladies, tokoh yang paling kompleks dalam cerpen ini bukan Mr. Das, melainkan istrinya. Mrs. Das digambarkan sebagai sosok yang tampak acuh terhadap anak-anaknya sendiri. Alih-alih menerima permintaan putrinya yang hanya ingin dicat kuku seperti ibunya, ia malah menyuruhnya pergi dengan nada ketus. Ia mengaku kepada Mr. Kapasi bahwa ia memendam rahasia besar selama delapan tahun: Bobby bukan anak dari suaminya. Ada jarak emosional yang sudah sangat jauh antara dirinya dan keluarga yang ia bangun. Bagi mahasiswa rantau, Mrs. Das mungkin terasa familiar dalam cara yang berbeda, bukan karena rahasianya, tapi karena perasaan terasing dari diri sendiri yang ia bawa sepanjang perjalanan itu.


Namun situasi berubah ketika sekumpulan monyet menyerang Bobby, sifat dingin Mrs. Das pecah. Mrs. Das berteriak panik, meminta Mr. Kapasi bertindak, lalu memeluk anaknya. "Poor Bobby," katanya sambil merapikan rambut putranya, naluri yang selama ini seperti terkubur itu muncul kembali bukan karena situasinya berubah, tapi karena krisis memanggilnya kembali ke identitas yang paling dasarnya. Mahasiswa rantau pun mungkin pernah mengalami versi yang lebih kecil dari ini: ketika ada kabar buruk dari keluarga, ketika kampung halaman membutuhkan kita, sesuatu dalam diri kita pulang lebih cepat dari tiket pesawat mana pun. Hal tersebut membuktikan bahwa identitas asal tidak benar-benar pergi; ia akan langsung kembali, ketika dibutuhkan.


Cerpen Lahiri tidak diakhiri dengan resolusi yang rapi. Keluarga das tidak tiba-tiba menerima dan berdamai dengan identitas asli mereka, sedangkan Mr. Kapasi gagal menjadi “penerjemah” yang mereka butuhkan. Dan karena itulah cerita ini menjadi menarik: perpindahan, baik antarnegara maupun antarkota, meninggalkan jejak yang tidak mudah diuraikan. Yang menarik bukan bagaimana kita memilih salah satu identitas dan membuang yang lain. Yang menarik adalah bagaimana kita belajar hidup di antara keduanya, tidak dengan menyangkal dari mana kita berasal, dan tidak dengan berpura-pura bahwa kita tidak berubah. Mungkin itulah pertanyaan yang paling jujur untuk dibawa pulang: kamu sedang membangun dirimu yang baru, atau sedang meninggalkan dirimu yang lama?


Kamu bisa memilih keduanya, dan itu tidak apa-apa


Penulis: Azra Veriska, Lola Amaria & Samuel
Editor: Dinda Putri Islamy

×
Berita Terbaru Update