![]() |
Universitas Bangka Belitung (UBB) sebagai perguruan tinggi negeri memiliki peran strategis dalam mencetak sumber daya manusia yang unggul di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Seiring dengan meningkatnya minat masyarakat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi, jumlah mahasiswa yang diterima setiap tahunnya pun terus bertambah. Namun, peningkatan kuantitas tersebut belum sepenuhnya diimbangi dengan kesiapan sarana dan prasarana yang memadai, khususnya pada ruang kelas dan fasilitas penunjang perkuliahan.
Salah satu Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Bangka Belitung berpendapat bahwa kondisi perkuliahan saat ini sering kali berlangsung kurang ideal. Dalam satu kelas, jumlah mahasiswa dapat mencapai lebih dari 40 orang. Pada situasi tertentu, jumlah kursi yang tersedia bahkan tidak mencukupi sehingga sebagian mahasiswa harus menunggu, berpindah tempat, atau menggunakan kursi seadanya. Kondisi ini tentu mengganggu kenyamanan belajar serta konsentrasi mahasiswa selama perkuliahan berlangsung.
Permasalahan tidak hanya terbatas pada keterbatasan kursi. Fasilitas ruang kelas juga menjadi keluhan yang cukup sering dirasakan mahasiswa. Beberapa ruang perkuliahan hanya dilengkapi satu unit pendingin ruangan (AC) untuk menampung puluhan mahasiswa. Dalam kondisi cuaca yang panas dan ruang kelas yang padat, suasana perkuliahan menjadi tidak kondusif. Kondisi tersebut secara umum dikhawatirkan dapat menghambat interaksi akademik yang ideal antara dosen dan mahasiswa.
Selain itu, persoalan fasilitas kampus juga terlihat pada area pendukung lainnya, seperti tempat parkir yang sempit dan tidak sebanding dengan jumlah mahasiswa serta staf kampus. Pada jam-jam sibuk, mahasiswa kerap mengalami kesulitan dalam mencari tempat parkir, bahkan harus memarkirkan kendaraan di area yang kurang layak. Situasi ini tidak hanya menimbulkan ketidaknyamanan, tetapi juga berpotensi menimbulkan risiko keamanan.
Permasalahan lain yang turut berdampak pada proses akademik adalah seringnya terjadi perubahan jadwal perkuliahan secara mendadak. Ketidakpastian jadwal ini membuat mahasiswa kesulitan mengatur waktu belajar, organisasi, maupun kegiatan akademik lainnya. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat menurunkan kualitas proses perkuliahan karena tidak berjalan secara terstruktur dan konsisten.
Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis juga menilai bahwa kondisi tersebut menunjukkan proses akademik belum sepenuhnya didukung oleh lingkungan belajar yang memadai. Ketika ruang kelas terlalu padat, fasilitas terbatas, serta manajemen jadwal kurang tertata, tujuan utama pendidikan tinggi, yakni menciptakan suasana belajar yang efektif dan bermutu, menjadi sulit tercapai. Tidak sedikit pula dosen yang menyampaikan keluhan serupa karena kondisi tersebut turut menghambat interaksi akademik yang ideal antara dosen dan mahasiswa.
Melalui tulisan ini, penulis berharap pihak Universitas Bangka Belitung dapat lebih memahami kondisi yang dihadapi mahasiswa di lapangan. Pembenahan sarana dan prasarana, penyesuaian kapasitas kelas, serta pengelolaan jadwal yang lebih tertib merupakan langkah penting yang perlu segera diperhatikan. Dengan lingkungan belajar yang lebih manusiawi dan mendukung, proses pendidikan di Universitas Bangka Belitung diharapkan dapat berjalan lebih efektif, nyaman, dan sesuai dengan cita-cita sebagai perguruan tinggi negeri yang bermutu.
Editor: Samuel
