Pada tahun akademik sebelumnya, Universitas Bangka Belitung (UBB) menerima jumlah mahasiswa baru yang terbilang sangat besar. Penerimaan ini pada satu sisi mencerminkan meningkatnya minat masyarakat terhadap UBB sebagai institusi pendidikan tinggi negeri di Bangka Belitung. Namun di sisi lain, kondisi tersebut memunculkan berbagai pembicaraan dan polemik di lingkungan kampus, khususnya terkait kesiapan sarana dan prasarana dalam menunjang proses akademik yang ideal.
Permasalahan utama yang muncul adalah keterbatasan fasilitas fisik kampus. Jumlah ruang kelas yang tersedia di UBB hingga saat ini masih tergolong minim dan belum sepenuhnya sebanding dengan lonjakan jumlah mahasiswa. Akibatnya, proses pembelajaran harus dialihkan ke sistem daring (Zoom) meskipun kegiatan akademik dilaksanakan secara luring. Kondisi ini tentu menimbulkan ketidakefektifan, karena pembelajaran daring dilakukan bukan atas dasar kebutuhan pedagogis, melainkan keterbatasan fasilitas.
Selain ruang kelas, permasalahan fasilitas juga terlihat pada area parkir kampus yang kini semakin padat dan bahkan sering kali tidak tertata. Parkiran yang penuh dan menumpuk bukan hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga berpotensi menimbulkan persoalan keamanan dan ketertiban di lingkungan kampus. Hal ini menjadi indikator bahwa peningkatan jumlah mahasiswa belum diiringi dengan pengembangan infrastruktur yang memadai.
Polemik terbaru mencuat di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), khususnya Program Studi Akuntansi. Perombakan kelas yang dilakukan secara mendadak memicu keresahan mahasiswa. Kelas yang sebelumnya berjumlah enam dengan kapasitas ideal sekitar 32 mahasiswa per kelas kini dipadatkan menjadi empat kelas dengan jumlah mahasiswa mencapai kurang lebih 48 orang per kelas. Kebijakan ini bukan sekadar persoalan penyesuaian atau rolling kelas, melainkan berdampak langsung pada kualitas proses pembelajaran.
Kelas dengan jumlah mahasiswa yang terlalu besar sulit menciptakan suasana belajar yang efektif. Interaksi dosen dan mahasiswa menjadi terbatas, diskusi tidak berjalan optimal, serta proses pengawasan dan evaluasi akademik menjadi kurang maksimal. Padahal, pendidikan tinggi menuntut ruang belajar yang kondusif, partisipatif, dan mampu mengakomodasi kebutuhan akademik setiap individu.
Apabila kondisi ini terus dibiarkan, tujuan pendidikan tinggi untuk melahirkan lulusan yang berkualitas, kritis, dan kompeten dikhawatirkan tidak dapat tercapai secara optimal. Oleh karena itu, diperlukan evaluasi terhadap kebijakan penerimaan mahasiswa baru yang diiringi dengan perencanaan pengembangan fasilitas kampus secara serius dan terukur. Peningkatan kuantitas mahasiswa seharusnya berjalan seiring dengan peningkatan kualitas sarana, prasarana, serta sistem pembelajaran.
Sebagai institusi pendidikan, UBB semestinya tidak hanya berorientasi pada capaian angka penerimaan mahasiswa, tetapi juga pada kesiapan lingkungan akademik yang layak dan berkelanjutan. Dengan demikian, proses pembelajaran dapat berjalan secara efektif, efisien, dan tetap menjunjung tinggi mutu pendidikan.
Penulis: Firwadi Astrolio
Editor: Anggie Tri Syafitri
