Pemilihan Mahasiswa Universitas Bangka Belitung (Pemilwa UBB) kini memasuki jilid keempat, sebuah fase yang seharusnya menjadi penanda kematangan demokrasi kampus. Namun, realitas yang tersaji justru sebaliknya. Aluh-alih menunjukkan kedewasaan politik, Pemilwa kembali menyisakan kegelisahan yang patut dipertanyakan bersama.
Pemilwa jilid pertama dan kedua mencatat kemenangan kotak kosong. Peristiwa ini bukan sekadar catatan sejarah, melainkan alarm keras bagi demokrasi kampus bahwa ada persoalan mendasar dalam proses kaderisasi, representasi, dan kepercayaan mahasiswa terhadap calon pemimpin yang diusung. Kemenangan kotak kosong lahir dari kekecewaan, apatisme sekaligus perlawanan sunyi mahasiswa yang memilih untuk diam.
Alih-alih dijadikan bahan evaluasi mendalam, Pemilwa jilid ketiga justru membawa krisis yang lebih dalam karna tidak satu pun mahasiswa yang mencalonkan diri. Demokrasi kampus pun “diselamatkan” melalui Sidang Istimewa, sebuah forum yang dipenuhi perdebatan panjang dan tarik-menarik kepentingan. Di ruang itu, setiap pihak tampak sibuk mempertahankan posisi masing-masing demi tetap berada di zona aman. Maka pertanyaan mendasarnya, apakah Sidang Istimewa benar-benar menyelamatkan demokrasi mahasiswa, atau justru menegaskan kegagalan sistem dalam menumbuhkan partisipasi dan keberanian politik?
Pemilwa jilid keempat kembali digelar dengan hanya satu pasangan calon. Kondisi ini sulit untuk tidak dibaca sebagai kelanjutan dari alarm yang sama. Minimnya pilihan jelas bukan situasi ideal dalam demokrasi. Mahasiswa patut curiga ketika ruang kontestasi menyempit, sebab demokrasi yang sehat mensyaratkan pertarungan gagasan, bukan sekadar pemenuhan prosedur. Dalam situasi stagnan seperti ini, selalu ada potensi segelintir pihak memanfaatkan keadaan demi kepentingan tertentu.
Mahasiswa tidak seharusnya memilih diam. Sikap pasif hanya akan memperpanjang krisis representasi yang sudah berlarut-larut. Rekam jejak Pemilwa sebelumnya mesti dibaca secara kritis sebagai bahan refleksi bersama. Terlalu banyak problematika yang terjadi untuk diabaikan begitu saja. Apakah pemimpin yang dihadirkan hari ini benar-benar mewakili kepentingan mahasiswa, atau justru berpotensi meredam ruang kritis yang seharusnya dijaga?
Mahasiswa membutuhkan pemimpin yang bukan sekadar aman dan kompromistis, melainkan berani, berpihak, dan mampu menyuarakan kepentingan kolektif. Tanda-tanda yang muncul hari ini bukan lagi isyarat samar, melainkan peringatan nyata. Karena itu, mahasiswa harus saling mengingatkan, bersuara, dan mengambil sikap.
Demokrasi kampus tidak akan hidup jika hanya dijalankan oleh segelintir orang, sementara mayoritas memilih pasif. Pemilwa seharusnya menjadi ruang pendidikan politik, bukan rutinitas tahunan yang kehilangan makna. Jika mahasiswa benar-benar menginginkan perubahan, maka keberanian untuk mengkritisi dan terlibat aktif bukanlah pilihan melainkan keharusan.