Di era digitalisasi saat ini, urbanisasi yang masif di kalangan generasi muda kerap dirayakan sebagai simbol kemandirian sosial dan keberhasilan ekonomi. Perpindahan ke kota besar untuk pendidikan dan pekerjaan dianggap sebagai langkah rasional dalam meningkatkan kualitas hidup, bahkan menjadi tolok ukur pencapaian yang melekat dalam kehidupan kaum muda. Namun, di balik narasi kemajuan tersebut, ada kenyataan yang sering terlupakan, yaitu keluarga yang ditinggalkan.
Pertanyaan yang jarang diajukan adalah dampak yang dirasakan oleh mereka yang tinggal, khususnya lansia yang sering kali diposisikan sebagai kelompok yang tidak lagi produktif. Kelompok ini sering dianggap tidak lagi berperan besar dalam keluarga, sehingga perlahan tersisih. Perubahan struktur keluarga dan mobilitas generasi muda membuat ruang sosial lansia semakin sempit. Kondisi ini tidak selalu hadir dalam bentuk keluhan yang jelas, tetapi hadir dalam kesepian yang sulit diungkapkan.
Fenomena ini tidak hanya terjadi dalam kehidupan sosial, tetapi juga terlihat dalam layanan kesehatan. Tidak jarang lansia datang ke fasilitas kesehatan berulang kali, bukan karena kondisi medisnya memburuk, tetapi karena di sanalah mereka merasa didengar. Dalam praktik sehari-hari, fasilitas kesehatan sering menjadi tempat alternatif untuk mencari interaksi sosial. Fenomena ini dikenal sebagai frequent attenders, di mana kunjungan tidak selalu didasari masalah medis yang serius. Hal ini menunjukkan bahwa fasilitas kesehatan tidak lagi sekadar menjadi tempat pengobatan, tetapi juga ruang sosial yang menggantikan kehadiran keluarga Dalam situasi ketika relasi emosional di rumah semakin terbatas, tenaga kesehatan secara tidak langsung menjadi “pendengar terakhir”.
Prevalensi kesepian pada lansia menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Sebuah studi tahun 2022 melaporkan bahwa prevalensinya di Indonesia dapat mencapai sekitar 64%, sehingga menjadi isu kesehatan mental yang tidak dapat diabaikan. Kesepian tidak hanya terkait dengan hidup sendiri, tetapi juga dengan menurunnya kualitas hubungan sosial, termasuk berkurangnya interaksi dengan anak akibat urbanisasi. Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa kesepian berkaitan dengan depresi dan penyakit kronis, sehingga berdampak nyata pada kesehatan fisik dan mental.
Masalahnya, kesepian pada lansia sering tidak selalu tampak secara langsung dipermukaan. Kondisi ini jarang menjadi keluhan utama, tetapi muncul dalam bentuk gejala yang tidak jelas atau kunjungan berulang ke layanan kesehatan berulang yang sulit dijelaskan secara medis. Banyak kasus tidak terdeteksi sebagai masalah yang memerlukan intervensi, karena sistem kesehatan lebih fokus pada aspek biologis dibandingkan kondisi psikososial. Akibatnya, kesepian sering tidak dikenali dan tidak tertangani, meskipun sangat memengaruhi kualitas hidup.
Dalam konteks yang lebih luas, perubahan ini juga mencerminkan pergeseran nilai dalam masyarakat. Hubungan antar generasi keluarga yang dulu erat kini mulai berubah menjadi lebih individual dan berorientasi pada produktivitas. Kedekatan tidak lagi diukur dari kehadiran fisik, tetapi sering terbatas pada komunikasi yang singkat dan tidak berkelanjutan. Dalam situasi ini, lansia menjadi kelompok yang paling rentan karena kehilangan peran dan makna dalam hubungan keluarga.
Hubungan antara urbanisasi dan kesepian lansia memang tidak selalu langsung. Namun, urbanisasi dapat berperan sebagai faktor pemicu tidak langsung yang memperlemah dukungan sosial lansia. Ketika generasi muda pergi, ruang interaksi di rumah berkurang, sehingga lansia kehilangan peran sosial dan kedekatan emosional. Kondisi ini diperparah oleh pergeseran struktur keluarga dari extended family ke nuclear family, yang secara sistematis mengurangi intensitas interaksi antar generasi. Dalam kondisi ini, kesepian bukan hanya masalah individu, tetapi juga dampak sosial dari perubahan zaman.
Pada akhirnya, urbanisasi tidak hanya tentang perpindahan ruang, tetapi juga perubahan relasi manusia. Kita mungkin berhasil menciptakan generasi yang mandiri dan produktif, tetapi tanpa sadar meninggalkan lansia dalam kesunyian. Ketika ruang interaksi mereka menyempit, fasilitas kesehatan pun perlahan mengambil peran sebagai tempat untuk didengar, melampaui fungsi medisnya. Hal ini menunjukkan bahwa jika keberhasilan pembangunan hanya diukur dari usia dan ekonomi, kita bisa mengabaikan pertanyaan penting: apakah panjang usia juga berarti hidup yang bermakna? Tanpa kualitas relasi dan kesejahteraan emosional, memperpanjang usia pada akhirnya hanya akan memperpanjang kesepian.
Penulis: Zafirah Ablah Rania Widoro
Editor: Samuel