Gambar: Sumber Portal Belitung-Pikiran-Rakyat.com
Digitalisasi UMKM kerap digembar-gemborkan sebagai jalan pintas menuju kemajuan. Para pelaku usaha didorong untuk masuk ke dunia marketplace, beradaptasi, dan mengikuti arus ekonomi baru yang serba cepat dan instan. Menurut Ndraha et al. (2024), digitalisasi memang memberikan berbagai keuntungan dan kemudahan, namun tidak sedikit tantangan yang harus dihadapi. Temuan tersebut sejalan dengan hasil observasi kami di lapangan. Para pelaku UMKM mengakui adanya kemudahan promosi, peningkatan visibilitas, hingga akses terhadap konsumen luar daerah. Akan tetapi, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa bergabung ke marketplace tidak serta-merta meningkatkan penjualan secara signifikan. Toko digital tetap sepi kunjungan, sementara upaya mengikuti algoritma justru melelahkan. Antara tuntutan untuk “Go-Digital” dan hasil yang belum “Go-Naik”, UMKM berada dalam ruang abu-abu digitalisasi yang jarang dibicarakan.
Di banyak titik, para pelaku UMKM justru merasa digitalisasi menciptakan pekerjaan tambahan yang sebelumnya tidak pernah mereka bayangkan. Mereka harus belajar memotret produk dengan baik, memahami cara kerja iklan berbayar, hingga merancang strategi menaikkan rating agar tidak tersisih. Bagi pelaku yang tidak terbiasa menggunakan teknologi, ini bukan sekadar proses belajar, tetapi tekanan yang membuat mereka merasa “tidak cukup canggih” untuk mengikuti pasar digital.
Lebih jauh, mereka dihadapkan pada fakta bahwa algoritma marketplace tidak bekerja setara bagi semua pelaku usaha. Usaha bermodal besar biasanya mampu membayar influencer untuk mendongkrak brand, sementara pelaku UMKM dengan modal terbatas sulit melakukan hal serupa. Marketplace memang membuka pintu, tetapi siapa yang benar-benar terlihat sepenuhnya ditentukan permainan algoritma. Dan dalam ekonomi digital hari ini, visibilitas adalah segalanya.
Tentu, pengalaman negatif bukan satu-satunya cerita. Ada juga pelaku UMKM yang merasakan manfaat nyata dari digitalisasi. Mereka tidak lagi bergantung pada pembeli lokal, dan produk mereka dapat menjangkau konsumen dari berbagai daerah. Bagi kelompok ini, teknologi benar-benar membantu, terutama ketika mereka memiliki literasi digital yang memadai, modal yang cukup, serta waktu untuk menyesuaikan diri dengan perubahan platform.
Kontras seperti inilah yang seharusnya membuat kita berhenti menyederhanakan digitalisasi sebagai solusi universal. Teknologi bukan hanya soal masuk ke marketplace, tetapi tentang kemampuan mengikuti ritme yang ditentukan platform besar. Ada faktor literasi, modal, jaringan, hingga pemahaman algoritma yang memengaruhi siapa yang naik dan siapa yang tertinggal. Tanpa itu semua, digitalisasi hanya menjadi etalase baru yang belum tentu menjanjikan peningkatan berarti.
Pada akhirnya, UMKM berada pada persimpangan yang tidak mudah. Mereka dituntut terus beradaptasi dengan dunia digital, sementara realitas operasional masih jauh dari ideal. Teknologi menyediakan jalan, tetapi tidak selalu memberikan arah. Jika kampanye digitalisasi terus digaungkan tanpa memahami pergulatan riil para pelakunya, kita hanya akan menciptakan ilusi bahwa semua UMKM akan maju hanya karena mereka sudah “online”. Digitalisasi tetap penting, tetapi tidak bisa dipandang sebagai obat mujarab.
Yang dibutuhkan UMKM bukan sekadar ajakan untuk masuk marketplace, melainkan pendampingan, edukasi, dan kebijakan yang membuat mereka mampu bertahan dan berkembang. Tanpa dukungan tersebut, UMKM akan terus berada pada posisi yang sama: sudah Go-Digital, tetapi belum benar-benar Go-Naik.
Lebih jauh lagi, kondisi “sudah Go-Digital tetapi belum Go-Naik” menunjukkan bahwa perubahan digital tidak dapat berjalan sendiri tanpa ekosistem yang mendukung. Selama pelaku usaha kecil masih berjuang sendirian menghadapi algoritma yang tidak transparan, biaya iklan yang semakin tinggi, serta persaingan dengan merek besar yang punya sumber daya melimpah, digitalisasi justru dapat memperlebar ketimpangan antar pelaku usaha. Dunia digital memang menawarkan banyak peluang, namun juga penuh tantangan bagi mereka yang tidak memiliki akses memadai terhadap pengetahuan, pelatihan, dan pendampingan teknis.
Dengan demikian, tantangan dalam digitalisasi UMKM bukan hanya persoalan kapasitas individu, tetapi juga persoalan struktural yang memerlukan kolaborasi mendalam. Pemerintah perlu memastikan regulasi dan infrastruktur digital berjalan inklusif, akademisi harus memperkuat penelitian dan pendampingan berbasis kebutuhan nyata, sementara sektor swasta selayaknya menyediakan pelatihan yang relevan, bukan sekadar mementingkan kepentingan platform. Ketiganya perlu bersinergi untuk membangun ekosistem digital yang benar-benar memberdayakan UMKM.
Pada akhirnya, digitalisasi hanyalah alat, bukan tujuan akhir. Fokus utama harus diarahkan pada bagaimana UMKM dapat berkembang, naik kelas, dan tetap berkelanjutan di tengah dinamika ekonomi digital yang kian cepat.
Penulis: Fitri Evilia, Dea Adinda Riskya, Lovina Yasyfa Nazwa, Rindu Lola Yolanda N,
Retno Julia Artika, Devary Darren
Editor: Nayla Azaria