Mahasiswa yang digadang-gadang sebagai agen perubahan masa depan bangsa ternyata masih banyak yang belum memiliki sikap berwawasan lingkungan. Kampus, yang dikenal dan diakui masyarakat sebagai tempat lahirnya para intelektual muda dan insan akademik yang beradab, pada kenyataannya masih menunjukkan realitas yang jauh dari harapan. Banyak mahasiswa yang sengaja membuang sampah sembarangan, dan perilaku ini mencerminkan kualitas pola pikir mereka yang sebenarnya.
Fenomena mahasiswa UBB yang membuang sampah sembarangan bukan hanya menyangkut masalah kesadaran terhadap kebersihan, tetapi juga menunjukkan bagaimana proses pembentukan karakter berlangsung. Jika kebiasaan ini terus dibiarkan, ia dapat membentuk karakter yang tidak bertanggung jawab dan abai terhadap lingkungan.
Tumpukan sampah seperti plastik, kertas bekas, styrofoam, dan puntung rokok menjadi pemandangan sehari-hari yang mudah ditemui di berbagai sudut kampus.
Lalu, apakah mahasiswa masih perlu diajarkan bagaimana bertindak dan berperilaku yang baik dan benar? Padahal kata "mahasiswa" itu sendiri memiliki makna yang dalam. Mahasiswa bukan hanya seseorang yang sedang menuntut ilmu, tetapi intelektual muda bangsa yang unggul, beradab, dan memiliki daya pikir kritis.
Permasalahan ini bukan disebabkan oleh kurangnya fasilitas yang disediakan kampus, melainkan oleh kesadaran individu yang rendah terhadap lingkungan. Tempat sampah tersedia di banyak titik, tetapi jika kebiasaan buruk sudah dianggap sepele, sampah pun tetap dibuang sembarangan.
Sebagai calon intelektual muda, saya berharap kita mampu menyadari tindakan mana yang sepatutnya dilakukan. Menjaga kebersihan lingkungan kampus adalah tanggung jawab kita bersama. Dengan membuang sampah pada tempatnya, kita menunjukkan kepedulian, kedewasaan, dan penghargaan terhadap lingkungan tempat kita menimba ilmu.
Penulis: Caldriandro Velmin Sijabat
Editor: Nayla Azaria
