![]() |
| Audiensi bersama pihak kampus (16/3). Sumber Foto Istimewa |
Menindaklanjuti insiden tersebut, pengurus LPM Alternatif melakukan audiensi dengan pihak rektorat pada Senin (16/3) pukul 11.15 WIB. Audiensi ini dihadiri oleh Ketua Umum LPM Alternatif, Andini Novazera, beserta jajaran, serta dikawal langsung oleh Dharma selaku Wakil Ketua Umum I DPM KM UBB. Dari pihak birokrasi, hadir perwakilan Badan Akademik dan Kemahasiswaan (BAKK) serta Bagian Umum dan Keamanan.
Namun, terdapat catatan dalam proses audiensi ini. Meski dalam editorial sebelumnya LPM Alternatif secara terbuka mengundang DPM KM UBB dan BEM KM UBB untuk membersamai audiensi, hanya pihak legislatif (DPM) yang tampak hadir di lapangan. Hingga berita ini diturunkan, BEM KM UBB belum menunjukkan keterlibatan aktif maupun menyampaikan respons komprehensif terkait teror yang menimpa pers mahasiswa ini. Upaya yang terlihat sejauh ini hanyalah penyebaran informasi yang bahkan masih memuat kekeliruan data tanggal kejadian dan belum dilakukan revisi hingga saat ini.
Dalam audiensi tersebut, Bagian Umum dan Keamanan menyampaikan permohonan maaf atas kejadian yang menimpa LPM Alternatif. Mereka menyatakan akan berkoordinasi dengan UPA TIK untuk melakukan pengecekan CCTV serta mengawal kasus ini. Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa CCTV yang ada di Balai Ormawa tidak berfungsi, yang disinyalir akibat masalah kelistrikan. Pihak BAKK juga menyampaikan bahwa perbaikan sistem kelistrikan akan segera dilakukan. Kondisi ini menjadi sorotan serius mengingat sarana dan prasarana keamanan kampus yang tidak optimal telah membuka celah terjadinya tindak kriminal. Bahkan, pihak keamanan menyarankan agar organisasi mahasiswa tidak menyimpan barang berharga di sekretariat, sebuah imbauan yang justru menegaskan lemahnya sistem perlindungan fasilitas kampus itu sendiri.
Di sisi lain, DPM KM UBB menunjukkan komitmen penuh dalam mengawal kasus ini. Dalam pernyataannya, Dharma menegaskan bahwa DPM KM UBB sepakat untuk mengawal kasus ini hingga menemukan kejelasan, sekaligus melakukan evaluasi bersama agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang. “Berdasarkan hasil audiensi, seluruh pihak sepakat untuk mengawal kasus ini hingga menemukan kejelasan, serta akan melakukan evaluasi bersama guna mencegah terulangnya kejadian yang serupa di masa mendatang,” ujarnya sembari mengajak elemen mahasiswa untuk menjaga kondusivitas selama penyelidikan.
Dukungan juga datang dari berbagai organisasi mahasiswa, termasuk BEM Fakultas Hukum, yang secara terbuka menyatakan sikap dan siap mengawal kasus ini. Hal ini terlihat dalam postingan di media sosial BEM FH UBB. Namun demikian, masih terdapat sebagian organisasi mahasiswa tingkat universitas yang belum menunjukkan keterlibatan aktif dalam pengawalan kasus ini. Hal ini menjadi catatan penting mengingat solidaritas antarorganisasi sangat dibutuhkan dalam merespons persoalan yang menyangkut keamanan Bersama.
Ketua Umum LPM Alternatif mengapresiasi pihak-pihak yang telah membantu, namun ia menegaskan bahwa peristiwa ini bukan sekadar pencurian biasa, melainkan bentuk teror terhadap kebebasan pers mahasiswa. Hingga dua hari pasca-kejadian, pengecekan CCTV belum membuahkan titik terang. Oleh karena itu, LPM Alternatif menyatakan sikap tegas untuk melanjutkan kasus ini ke jalur hukum dan melimpahkannya kepada pihak berwajib jika tidak segera ditemukan solusi konkret.
Penulis: Alternatif
Editor: Samuel
